Kamis, 15 Mei 2014

Analisis Khalayak Desa Lubuk Sawah Samarinda Kalimantan Timur

LAPORAN
DASAR DASAR KOMUNIKASI
STUDI KHALAYAK
HAMA DAN PENYAKIT IKAN


KELOMPOK 6
Niki ristanto                           Erlin andriyani
Ahmad alfani                          Dewi sri baningsih
Donny                                    Melda
Evi                                         Taufik setiadi



AGROBISNIS PERIKANAN KONSENTRASI PENYULUHAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN

2014



HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN
DI DESA LUBUK SAWAH KECAMATAN SUNGAI PINANG DALAM
1.      Lokasi :
a.       Desa                      : Lubuk sawah
b.      Kecamatan             : Sungai pinang
c.       Kota                       : Samarinda

2.      LATAR BELAKANG
Penyakit ikan merupakan salah satu kendala dalam usaha budidaya perikanan. Hal ini disebabkan karena wabah penyakit dapat menimbulkan kematian ikan maupun udang budidaya. Tingginya tingkat kematian ikan budidaya dapat menurunkan produksi perikanan sehingga nilai pendapatan yang diperoleh menjadi turun jika dibandingkan dengan jumlah modal yang harus dikeluarkan untuk keperluan budidaya seperti pembelian benih, pakan, pembuatan tambak atau kolam, upah tenaga kerja dan lain sebagainya.
Organisme yang diserang penyakit pada umumnya berasal dari kelompok hama, parasit, dan non parasit. Namun, yang paling banyak menimbulkan kerugian adalah penyakit yang disebabakan oleh parasit. Penyakit yang disebabakan oleh parasit biasanya sulit untuk dideteksi oleh para petani ikan karena terdapat banyak parasit yang dapat menimbulkan penyakit dengan gejala yang sama. Kerugian yang ditimbulkan oleh parasit bergantung pada beberapa faktor, yaitu umur biota yang sakit, persentase populasi yang terserang penyakit, parahnya penyakit, dan adanya infeksi sekunder. Parasit yang dapat menyerang organisme budidaya adalah dari jenis virus, bakteri, jamur, protozoa, golongan cacing dan udang renik. Serangan parasit biasanya terjadi pada kolam yang kualitas airnya buruk atau kolam yang tidak terawat.
Faktor lain yang membuat kerugian  adalah pengetahuan  yang dimiliki untuk mendeteksi parasit tersebut. Hal ini sangat membahayakan para petani ikan karena akan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Dalam usahanya mereka menggunakan lokasi yang dekat dengan perkebunan dan tambang batubara yang menyebabkan kualitas air yang tercemar karena limbah tambang dan pemakain pestisida oleh perkebunan sekitar kolam.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu di adakan studi khalayak di desa lubuk sawah kecamatan sungai pinang dalam kota samarinda, di maksudkan guna mendapatkan permasalahan yang di hadapi khususnya menyangkut mengenai masalah hama dan penyakit pada ikan.
II. TUJUAN DARI STUDI KHALAYAK
Tujuan dari studi khalayak :
1.      Mengetahui permasalahan sebenarnya tentang hama dan penyakit pada ikan.
2.      Berusaha mencari solusi pemecahan masalah yang berhubungan dengan hama dan penyakit pada ikan.

III. METODE YANG DI GUNAKAN
Untuk mengetahui permasalahan hama dan penyakit yang di hadapi dalam pembenihan ikan di desa lubuk sawah kecamatan sungai pinang dalam kota Samarinda maka di lakukan :
1.      Wawancara dengan staf dibalai karantina ikan Samarinda
2.      Wawancara dengan beberapa petani ikan
3.      Studi pustaka untuk melengkapi dan mengetahui tentang hama dan penyakit pada ikan

IV. HASIL STUDI KHALAYAK
1.      Alasan Pemilihan Lokasi
Desa lubuk sawah kecamatan Sungai Pinang kota Samarinda, masyarakatnya sebagian besar petani dan pembudidaya. Dengan lokasi pada dataran  rendah, dengan curah hujan yang cukup dan kondisi perairan yang kurang baik, sehingga hal ini yang menjadikan alasan dipilihnya desa ini sebagai objek studi khalayak dengan mengetahui permasalahan yang ada dalam budidaya.

2.      Permasalahan
Berdasarkan hasil survey dilapangan serta hasil wawancara dengan masyarakat dan petani ikan didesa Lubuk Sawah dapat diketahui bahwa permasalahan yang sering dihadapi oleh petani ikan dalam budidaya ikan yaitu kurang begitu memahami cara menanggulangi hama dan penyakit secara benar.

3.      Letak Geografis
Desa Lubuk Sawah terletak dikecamatan Sungai Pinang kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dengan tofografi termasuk dataran rendah dan bersuhu rata rata 28˚C.

4.      Tujuan Desain Pesan
Dari permasalahan-permasalahan yang sudah dijelaskan diatas, maka kami tertarik untuk mencoba mencari solusi pemecahan-pemecahan tersebut dengan harapan untuk dapat memberi jalan keluar atas kurangnya pengetahuan untuk menanggulangi hama dan penyakit pada ikan.
Berusaha memberitahukan kepada masyarakat akan cara-cara penanggulangan hama dan penyakit dari tahap pencegahan, karantina sampai ketahap penaggulangannya.

V. KERANGKA PESAN / OUT LINE FOLDER
1.      Topik
Topik pembuatan studi khalayak ini adalah bahwa saat ini permintaan akan bibit ikan dimasyarakat semakin meningkat. Namun, kurangnya akan pengetahuan tentang penaggulangan hama dan penyakit pada ikan yang mengakibatkan permintaan akan bibit ikan kurang terpenuhi. Oleh karena itu, topik ini akan mengambil judul : ”Penanggulangan Hama dan Penyakit Pada Ikan”.

2.      Judul
Dalam menginformasikan tentang cara-cara penanggulangan hama dan penyakit pada ikan, kami mencoba menggunakan media folder. Adapun judul yang diambil dalam pembuatan folder ini adalah : “Hama dan Penyakit Pada Ikan.

3.      Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Tujuan intruksional umum dalam peulisan folder ini adalah : memberi  pengetahuan kepada masyarakat dan petani ikan tentang cara penanggulangan hama dan penyakit pada ikan secara baik dan benar.

4.      Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah membaca folder ini diharapkan masyarakat dan petani ikan dapat mengeti bagaimna cara pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit pada ikan yang di harapkan dapat menunjang keberhasilan guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan bibit ikan.

5.      Pokok – Pokok Materi
a.       Gambaran umum tentang hama dan penyakit pada ikan
b.      Tahap pencegahan
c.       Tahap penanggulangan
IV. STORY LINE/SINOPSIS
Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap ikan dapat disebabkan oleh organisme lain, pakan, maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang kehidupan ikan. Dengan demikian timbulnya serangan penyakit ikan di kolam merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ikan, kondisi lingkungan dengan organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini telah menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit.
Perkembangan dan keseriusan suatu penyakit dalam akuakultur meliputi suatu interaksi yang kompleks antara tingkat virulensi patogen, derajat imunitas inang, kondisi fisiologis dan genetic hewan, stress dan padat tebaran. Secara umum faktor-faktor yang terkait dengan timbulnya penyakit merupakan interaksi dari 3 faktor, yaitu inang, patogen, dan lingkungan atau stressor eksternal (yaitu perubahan di lingkungan yang tidak menguntungkan, tingkat higienik yang buruk dan stress) (Austin dan Austin, 1999).
Sakit pada ikan yaitu suatu keadaan abnormal yang ditandai dengan penurunan kemampuan ikan secara gradual dalam mempertahankan fungsi-fungsi fisiologik normal. Pada keadaan tersebut ikan dalam kondisi tidak seimbang fisiologisnya serta tidak mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengn kondisi lingkungan. Timbulnya sakit dapat akibat infeksi patogen yang dapat berupa bakteri, virus, fungi atau parasit. Sakit dapat pula akibat defisiensi atau malnutrisi, atau sebab-sebab lain. Ikan yang sakit akibat infeksi dikatakan sebagai ikan terkena penyakit infeksi, demikian pula jika ikan sakit akibat defisiensi nutrien dapat dikatakan sebagai ikan terkena penyakit defisiensi nutrien.
Penyakit meliputi penyakit infeksi dan bukan infeksi. Penyakit infeksi merupakan masalah utama, meliputi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, fungi dan parasit. Menurut Kinne (1980), penyakit pada hewan perairan dapat disebabkan oleh cacat genetic, cidera fisik, ketidakseimbangan nutrien, patogen dan atau polusi.
Dinamika infeksi, berat-ringannya penyakit serta penularan penyakit dalam suatu populasi atau antara dua atau lebih populasi ikan, serupa dengan yang terjadi pada hewan terrestrial dan manusia. Akan tetapi karena lingkungan air, maka dinamika penularan penyakit menjadi berbeda, karena air akan memfasilitasi penyebaran agensia penyebab penyakit.
Penyakit infeksi menjadi ancaman utama keberhasilan akuakultur. Pemeliharaan ikan dalam jumlah besar dan padat tebaran tinggi pada area yang terbatas, menyebabkan kondisi lingkungan tersebut sangat mendukung berkembangnya dan penyebaran penyakit infeksi. Kondisi dengan padat tebaran tinggi akan menyebabkan ikan mudah stress sehingga menyebabkan ikan menjadi mudah terserang penyakit. Selain itu, kualitas air, volume air dan alirannya berpengaruh terhadap berkembangnya suatu penyakit. Populasi yang tinggi akan mempermudah penularan karena meningkatnya kemungkinan kontak antara ikan yang sakit dengan ikan yang sehat.
Pada umumnya penyakit infeksi bersifat musiman, terutama pada daerah tropis. Di daerah sub tropis seperti Amerika Serikat, wabah penyakit infeksi umumnya terjadi pada bulan Maret – Juni dan September – Oktober, ketika suhu air mencaai 20 – 28oC. Kisaran suhu tersebut merupakan suhu optimum bagi sebagian besar patogen ikan (Plumb, 2001).
Wabah penyakit infeksius bisa bersifat akut dengan tingkat mortalitas yang tinggi dalam jangka waktu singkat, sub akut maupun kronis dengan mortalitas berlangsung hingga beberapa minggu sejak munculnya wabah  
 Penularan patogen atau penyakit dari satu individu ke individu lainnya dapat melalui dua cara, yaitu penularan vertikal dan horizontal. Penularan vertikal yaitu patogen ditularkan dari salah satu atau kedua induknya ke anaknya melalui sel kelaminnya. Adapun penularan horizontal meliputi penularan patogen dari individu satu ke lainnya melalui kontak langsung air, udara, atau hewan perantara.
Densitas ikan di alam bebas lebih rendah dari densitas ikan pada kolam pemeliharaan dan konsentrasi patogen ikan yang terinfeksi dengan cepat akan mengalami penurunan (dilusi) akibat volume air yang relatif besar, dengan demikian frekuensi insiden infeksi ikan di alam bebas relatif lebih rendah dibandingkan dengan ikan budidaya.
Meskipun sejumah insiden wabah penyakit pada perairan umum telah menyebabkan penurunan sejumlah spesies ikan, tetapi ancaman utama penurunan populasi atau musnahnya spesies ikan di alam bebas datang dari over fishing dan polusi perairan.
Karena kondisi lingkungan budidaya, populasi ikan budidaya menjadi lebih rentanterhadap patogen. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa ikan budidaya terkena serangan wabah penyakit yang ditularkan oleh ikan liar yang sakit. Penularan ikan juga dapat terjadi sebaliknya, yaitu dari ikan budidaya yang sakit dan menulari ikan di alam bebas. Dalam hal yang terakhir disebutkan, penekanan utama adalah kemungkinan ikan liar terinfeksi oleh spesies patogen  baru yang berasal dari ikan-ikan budidaya. Spesies patogen baru tidak terhindarkan lagi mengingat bahwa perkembangan global memungkinkan pengenalan ikan-ikan asing masuk untuk keperluan budidaya baik untuk keperluan konsumsi maupun ikan hias atau hobi.
Kehadiran parasit atau bakteri patogen dalam air kolam budidaya mungkin bersifat laten, tetapi karena sesuatu hal dapat terjadi perubahan dari laten menjadi patogenik, antara lain karena adanya perubahan dalam :
1.      konsentrasi oksigen
2.      konsentrasi karbon dioksida
3.      amonia
4.      kandungan materi organik, dan
5.      populasi mikroba 

V. PENYUNTING NASKAH
Kegiatan selanjutnya adalah memilah dan memilih bahasa yang akan di gunakan dalam folder sehingga mudah di mengerti oleh khalayak. Kemudian keterangan dalam studi khalayak dan synopsis di pilih atau di sunting sesingkat – singkatnya dan sejelas mungkin sehingga apa yang tertulis dalam folder dapat di gunakan sebagai informasi yang mudah di pahami oleh khalayak.




VI. LAYOUT FOLDER
1.      Format folder
Format foldermdi buat dengan model dua lipatan kedalam dengan menggunakan kertas ukuran costum size 11,69 x 8,27 inchi, halaman depan merupakan judul yang menggambarkan seluruh isi folder. Gambar berkaitan dengan folder serta sub bab dengan informasi yang saling berkaitan satu dengan yang lain, sehingga merupakan informasi yang bertahap dan lengkap yang dapat di mengerti dan di pahami oleh khalayak. Halaman terakhir folder merupakan identitas pembuat folder dengan harapan apabila khalayak ingin menanyakan sesuatu tentang isi folder dapat langsung menghubungi.
2.      Cover folder
Cover dari folder di rancang sesuai dengan informasi yang di sampaikan pada isi folder. Cover folder berjudul “Hama Dan Penyakit Pada Ikan” dengan gambar foto berupa lambang fakultas perikanan dan ilmu kelautan universitas mulawarman. Kemudian pada cover folder di cantumkan pula nama lembaga dan lambang dengan latar belakang hijau yaitu pada Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman.
3.      Ukuran jenis dan Warna kertas
a.       Ukuran jertas yang di gunakan dalam folder ini yaitu 8,27 x 11,69 inchi
b.      Jenis kertas yang digunakan adalah kertas HVS
c.       Warna dasar kertas putih dengan di kombinasikan dengan huruf dan gambar foto berwarna yang akan tampak menarik.
4.      Ukuran, jenis dan warna huruf
Ukuran, jenis dan warna huruf berfariasi. Untuk judul cover, ukuran hurufnya 14 point, dengan jenis huruf yang di gunakan adalah arial rounded mt bold menggunakan warna biru. Di tambahkan pula pada sub judul menggunakan shapes spesifikas rounded rectangle.

VII. EVALUASI MEDIA
Evaluasi media ini di maksudkan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pengetahuan khalayak setelah menerima isi pesan informasi ini, dan sampai sejauh mana khalayak menyerap informasi yang di sampaikan. Dalam informasi ini berisi tanggapan khalayak tentang isi pesan dengan menggunakan media. Evaluasi media ini dapat di lihat pada halaman lampiran.



DAFTAR PUSTAKA
Sri Rejeki N. Dan Herawati FA (1999). Dasar – Dasar Komunikasi untuk Penyuluhan, Universitas Atmajaya. Yogyakarta.